KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU DAN ADAB-ADABNYA
Dari Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda :
“Barang siapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (Diriwayatkan Muslim)
Menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah. Bahkan dia adalah ibadah yang paling besar. Dalil-dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu ini sangat banyak, baik dalam Al-Qur’an, Sunnah, serta perkataan para Salaf.
Dalil dari Al-Qur’an.
1. “Dan katakanlah, Ya Tuhanku tambahkanlah ilmu kepadaku.” (Thaaha : 114)
Dalam ayat ini Allah ?ÇÚÊ memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu. Dan Allah ?ÇÚÊ tidak memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk meminta tambahan harta dan kekuasaan tapi yang diperintahkan kepada Rasulullah adalah meminta tambahan ilmu. Ini menunjukkan ketinggian ilmu itu dimana Allah memerintahkan kepada Nabi untuk meminta tambahan dari ilmu sehingga perintah dari meminta tambahan ilmu itu sudah menunjukkan keutamaan ilmu itu.
2. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah : 11)
Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang diangkatnya derajat orang-orang yang berilmu diatas derajat orang-orang yang tidak berilmu. Orang-orang beriman yang berilmu lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang beriman yang tidak berilmu.
Berkata para Salaf, terangkatnya derajat ini di dunia dan di akhirat, jadi bukan hanya di akhirat diangkat derajatnya di sisi Allah, tapi bahkan di duniapun orang berilmu ini dianglat derajatnya, hal ini dapat dilihat secara nyata dimana dalam kehidupan kita orang-orang begitu mengagungkan dan menghormati para Ahlul ilmu, dimana orang beriman dihormati, orang berilmu dicari dan dibutuhkan, tidak ada orang yang berilmu yang tidak dibutuhkan, hal ini adalah salah satu pengangkatan derajat di dunia. Jadi diangkat derajatnya baik di dunia dan di akhirat.
3. “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?.” (Az-Zumar : 9)
Ayat ini merupakan Istifhaam inkari (pertanyaan yang mengingkari). Dalam bentuk pertanyaan tetapi makna sebenarnya mengingkari, artinya tidak sama. Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab karena pertanyaan itu sendiri sudah mengandung makna pengingkaran bahwasanya orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu baik dalam amalannya, dalam da’wah dan lain-lain.
4. “Allah mengatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.” (Ali-Imran : 18)
Dalam ayat ini Allah menyebutkan persaksian orang-orang yang berilmu akan ke-Ilahan Allah dimana persaksian orang yang berilmu disebutkan sebelum persaksian Allah sendiri dan persaksian para Malaikat. Persaksian orang yang berilmu ini menunjukkan keutamaan orang-orang berilmu karena Allah menyebutkan persaksian mereka atas Wahdaniyah Allah.
Dari Sunnah Rasulullah :
1. Dari Abu Hurairah , dia berkata, “ Rasulullah bersabda :
“Barang siapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (Diriwayatkan Muslim)
Dalam hadist ini Rasulullah ãáÓæåíáÚ?ÇìáÕ menyebut kata ÇÞíÑØ yang artinya jalan dan disebutkan dalam bentuk nakiroh (sesuatu yang tidak ditentukan / terbuka) jalan apa saja atau semua jalan dan inilah faidah disebutkan kata ÇÞíÑØ dalam bentuk nakiroh, ini mengangkat semua jalan yang mengantarkan kita untuk mendapatkan ilmu maka dia merupakan jalan ke syurga. Oleh karena itu barangsiapa yang mendengarkan kaset untuk menuntut ilmu itu juga merupakan jalan ke syurga, membaca buku agama, pergi membeli buku, kaset ceramah itu semua merupakan jalan untuk mendapatkan ilmu dan hal ini merupakan jalan ke syurga.
2.
“... Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu adalah pewaris nabi-nabi. Mereka (nabi-nabi) itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil dirham itu, berarti dia telah mengambil bangian yang banyak”. (Diriwayatkan Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Dari hadist ini kita mendapatkan kejelasan bahwa para ulama disifatkan sebagai pewaris Nabi padahal para Nabi itu tidak mempunyai warisan tetapi justru warisannya adalah ilmu, sehingga ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang mengambil warisan Rasulullah, dimana para Rasul tidak punya warisan (tidak mewariskan hartanya) sehingga yang diwariskan hanyalah ilmu oleh karena itu barangsiapa yang mengambil ilmu cukuplah merupakan kemuliaan baginya bahwa dia telah mengambil warisan dari Rasulullah ã (warisan Kenabian).
3.
“Sesungguhnya para Malaikat benar-benar meletakkan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu, karena ridho terhadap apa yang dicarinya”. (Diriwayatkan Al-Imam Ahmad dan Ibnu Majah).
Dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu sungguh akan dimintakan ampun baginya siapa yang dilangit dan apa yang di bumi sampai-sampai ikan di lautan akan memohonkan ampun kepada orang-orang yang menuntut ilmu.
4. “Apabila meninggal anak cucu Adam maka terputuslah amalannya kecuali anak yang sholeh yang mendoakannya, ilmu yang bermanfaat, shodaqah yang berjalan pahalanya.”
Ilmu yang dimanfaatkan dimana seorang ‘alim mengajarkan ilmunya kepada orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala ketika mengamalkan ilmu tersebut dan orang lain mengikuti apa yang dia ajarkan juga mendapatkan pahala ketika orang tersebut mengamalkannya, karenanya pahala yang didapatkan muridnya juga didapatkan untuk gurunya, semakin banyak orang yang mengamalkan ilmu yang diajarkan oleh sang ‘alim maka pahala akan sampai kepada sang ‘alim.
Berkata para Ulama 3 pahala tersebut berkumpul pada orang-orang Ahlul Ilmi, dikatakan demikian karena :
? Orang yang berilmu memiliki murid, dan murid-murid tersebut juga memiliki murid lagi dan seterusnya. Sehingga murid-murid ini bagaikan anak-anak dari sang ‘alim, yang ketika disebut nama gurunya maka ia mendo’akannya dan tentunya murid-murid sang ‘alim ini adalah orang-orang yang berilmu dan mereka merupakan anak yang sholeh. Jadi do’a anak-anak yang sholeh juga didapatkan oleh ‘alim ketika mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya maka mereka itu seperti anak-anak yang ketika disebut gurunya ia mendo’akannya. Jadi pahalanya mengalir kepada orang yang berilmu.
? Ilmu yang bermanfaat
? Shodaqah Jariyah, ilmu itu sama dengan shodaqah jariyah karena ia diajarkan kepada orang lain kemudian ia mengamalkannya. Setiap orang melaksanakan amalan yang ia dapatkan dari ilmu tadi mendapatkan pahala maka ‘alim yang pertama kali mengajarkan ilmu tadi juga mendapat pahala, terus-menerus pahalanya akan mengalir, semua orang yang mengajarkan apa yang ia ajarkan bahkan orang yang belajar.
3 perkara ini berkumpul pada seorang ‘Alim.
5. “Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah petunjuk maka ia mendapatkan pahala seperti pahala yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala tersebut sedikitpun.
6. “Barangsiapa yang melakukan didalam islam contoh yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala dari orang-orang tersebut sedikitpun....” (HR. Muslim)
Keutamaan bagi orang yang berilmu, karena masuk dalam hadits ini bahkan ia yang pertama kali masuk dalam cakupan hadits ini, dia memberikan contoh, mengajarkan ilmu kepada orang lain sehingga apabila orang tersebut mengajarkan ilmu yang ia berikan maka ia pun mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya. Meskipun seorang ‘alim kadang-kadang tidak sempat mengamalkan amalan tersebut. Maka pahala yang didapatkan oleh orang juga didapatkan oleh sang ‘alim.
Menghidupkan sebuah sunnah kemudian orang juga mengikuti dan mengamalkannya amalan tersebut maka ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang melakukannya meskipun ia telah meninggal.
Perkataan Para Salaf :
? Berkata salah seorang salaf : Jadilah engkau seorang ‘alim atau seorang muta’allim (pengajar) atau jadilah kau seorang pelajar (yang mencari ilmu) atau jadilah engkau sebagai orang yang mendengarkan ilmu tapi janganlah engkau menjadi yang keempat maka kau akan binasa.
Ini adalah hal yang sangat nyata apabila seseorang tidak menjadi ‘alim atau muta’allim atau seorang pendengar maka bagaimana ia bisa beramal, jadi nampak kebinasaan orang yang tidak termasuk ketiga hal tersebut. Jadi dari sini jelaslah keutamaan orang-orang berilmu.
? Perkataan Imam Ahmad
“ Kebutuhan manusia akan ilmu jauh lebih besar dari pada kebutuhan akan makanan dan minuman “.
Sebab segala sesuatu dalam agama ini membutuhkan ilmu, ibadah membutuhkan ilmu, bagaimana seseorang akan beribadah kepada Allah kalau ia tidak mempunyai ilmu terhadap peribadatan tsb, dalam muamalat bahkan sampai pada buang hajat memerlukan ilmu. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan manusia akan ilmu itu jauh lebih besar dari kebutuhan akan makanan dan minuman karena seseorang bisa bersabar untuk tidak makan dan minum tetapi bersabar untuk tidak berilmu itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Dalalah Al-aql ( Dalil secara akal )
Semua orang yang berakal bersepakat bahwa orang yang berilmu lebih baik dari pada orang yang tidak berilmu, selama akal seseorang masih sehat.
Dalam urusan dunia orang yang tau lebih baik dari pada orang yang tidak tau apalagi dalam urusan syari’at.
Beberapa Adab Yang Perlu Dimiliki Oleh Seorang Penuntut Ilmu
1. Niat yang benar dalam menuntut ilmu
Seseorang dalam menuntut ilmu yang diinginkan dengan ilmunya ini adalah pahala dari Allah, kehidupan yang bahagia di akhirat nanti bukanlah ia menuntut ilmu agar ia diangkat oleh manusia, bukan untuk mendapatkan kewibawaan dihadapan manusia, bukan untuk menyombongkan diri diatas orang-orang yang bodoh, bukan untuk mendapat sesuatu dari dunia tetapi dia menuntut ilmu untuk mendapatkan ridho Allah.
Sebagaimana dalam hadits RasulullahãáÓæåíáÚ?ÇìáÕ Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi tiap orang berdasarkan apa yang ia niatkan. (HR Bukhari dan Muslim)
Menuntut ilmu adalah ibadah maka dipersyaratkan keikhlasan di dalam mempelajarinya sehingga didalam hadits tersebut Rasulullah membatasi bahwa benar-benar ibadah itu tergantung pada niatnya maka barang siapa yang menuntut ilmu agama dengan maksud untuk mendapatkan sesuatu dari dunia maka ia tidak mendapatkan pahala dari ilmu yang ia pelajari.
Dalam hadits yang lain disebutkan “ Orang-orang yang menuntut ilmu karena dunia maka ia akan dimasukkan kedalam neraka.
Rasulullah ãáÓæåíáÚ?ÇìáÕ Barang siapa yang menuntut ilmu diantara ilmu-ilmu yang diharapkan didalamnya wajah Allah namun ia tidak menuntutnya kecuali ingin mendapatkan kemewahan dunia maka ia tidak akan mencium bau syurga.
Oleh karena itu salah satu adab penuntut ilmu yaitu bagaimana ia meluruskan dan membersihkan niatnya dari masalah-masalah dunia.
Keikhlasan dalam menuntut ilmu memiliki buah, yaitu ilmu tersebut akan senantiasa berguna bagi manusia. Seperti kisah dari Imam Malik bin Anas ketika menulis kitab ÃØæãáÇ banyak orang yang menulis seperti kitab yang ditulis oleh beliau, dikatakan kepada Imam Malik “Wahai Imam sudah banyak yang menulis seperti kitabmu maka jawab Imam Malik apa yang ditulis karena mengharap wajah Allah maka itulah yang akan tinggal/membekas dan hal tersebut benar dimana sekarang kita tidak mengenal kitab ÃØæãáÇ kecuali kitab yang ditulis oleh beliau.
Ibnu Taimiyyah ?ÇåãÍÑ dizaman beliau ia termasuk orang yang banyak memiliki musuh, dimana banyak ulama’ yang tidak menyenangi beliau bahkan mengharapkan agar ia dipenjarakan. Dan ini terbukti dimana ia menghabiskan kebanyakan umurnya dalam penjara tetapi apakah ketidak senangan orang-orang kepada beliau menyebabkan beliau terlupakan justru para ulama dizaman beliau yang tidak senang dengannya yang sampai pada hari ini dilupakan oleh orang. Ini adalah buah dari keikhlasan beliau dalam menuntut dan mengajarkan ilmu sehingga ilmunya tetap memiliki atsar dan banyak orang mengambil manfaat dari ilmunya.
Satu kalimat yang keluar dari seorang yang mukhlis lebih baik dan memiliki manfaat dari pada beribu-ribu kalimat yang keluar yang keluar dengan ketidak ikhlasan. Seperti kisah seorang alim, pernah seseorang bertanya kepadanya, mengapa kalau anda yang memberikan nasehat orang-orang pada menangis sementara kalau orang lain yang memberikan nasehat tidak ada yang menangis maka jawaban Sang alim tersebut Wahai anakku tidak sama menangisnya orang yang kehilangan kerabatnya dengan menangisnya orang sewaan. Orang yang dengan ilmunya mengharapkan dunia seperti orang-orang sewaan itulah sebabnya tidak ada orang yang menangis dan terpengaruh mendengar perkataannya.
2. At-Tadarruj (bertahap)
Maka datangilah rumah dari pintunya begitupula dengan ilmu. Ilmu itu hendaknya dipelajari secara bertahap sebagaimana yang dilakukan oleh ulama’ salaf mareka mempelajari Al-Qur’an (ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an) kemudian berangkat kepada yang lain. Inilah yang disebut dalam Al-qur’an “jadilah kalian Rabbaniyyin” sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu AbbasåäÚ?ÇìÖÑ yaitu mereka yang mengajarkan ilmu yang dasar kemudian meningkat sampai yang tinggi.
Memprioritaskan ilmu yang bisa langsung diamalkan karena Rasulullah berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat hal ini harus diperhatikan karena tidak berguna ilmu jika tidak diamalkan.
Hendaknya penuntut ilmu mengambil ilmu dari ahlinya yang memiliki disiplin ilmu tersebut karena hal ini adalah sunnah didalam menuntut ilmu. Seperti Rasulullah ãáÓæåíáÚ?ÇìáÕ mengambil Al-qur’an dari Jibril setelah itu mengajarkan kepada para sahabat begitupula generasi setelah sahabat dan seterusnya hingga sekarang. Tidak boleh seorang penuntut ilmu merasa cukup dengan dirinya dan hanya mengandalkan buku (belajar dari buku), kalau ia tidak mendapatkan guru itu tidak mengapa ia belajar lewat buku walaupun sebenarnya buku itu bukan rujukan yang pertama dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu kata para salaf ash-sholeh ilmu itu tidak diambil dari suhuf (buku-buku) begitupula al-qur’an tidak diambil dari mushaf, maksudnya jika kita ingin mempelajari al-qur’an tidak hanya sekedar dihafal tetapi bagaimana kita belajar pada orang yang mengerti al-qur’an.”Barangsiapa yang memasuki ilmu sendirian maka ia akan keluar dari ilmu itu sendirian” artinya ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Keuntungan yang lain yang didapatkan jika seseorang belajar pada seorang syaikh (guru) disamping kita belajar ilmu, kita juga belajar amal sekaligus.
Rekaman proses dari materi Daurah syar’i. Sabtu, 20 Juli 2002
Pemateri : Syeikh Abdullah Bin Hammad Az-Zaidaany
Selasa, 19 Februari 2013
Selasa, Februari 19, 2013
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar